Seperti apa bedanya keseharian anak SMA di kota dan desa?

2019-05-22 11:05:02 侴欣胨 26
2017年8月8日下午3:05发布
2017年8月8日下午3:05更新

Peneliti Perancis,Jean-Marc de Grave,saat memaparkan hasil penelitiannya di Institut Francais Indonesia,Jakarta,pada 2 Agustus 2017. Foto dari IFI

Peneliti Perancis,Jean-Marc de Grave,saat memaparkan hasil penelitiannya di Institut Francais Indonesia,Jakarta,pada 2 Agustus 2017. Foto dari IFI

印度尼西亚雅加达 - Seperti apa,sih,kehidupan para pelajar SMA? Apakah mereka memiliki banyak waktu luang di luar jam sekolah dan dapat melakukan aktivitas positif lainnya?

Pertanyaan ini menjadi salah satu基础dari riset seorang peneliti asal Perancis,Jean-Marc de Grave。 De Grave melakukan penelitian terhadap dua SMA; yaitu SMAN 6 Yogyakarta yang berada di tengah kota dan SMAN Pakem yang berjarak 20 KM dari pusat kota。

Dosen dan ketua peneliti di jurusan antropologi Universitas Aix-Marseille,Perancis,ini sudah melakukan banyak penelitian di Indonesia,khususnya mengenai pendidikan dan kebudayaan Jawa。

Dalam penelitian ini,De Grave membutuhkan waktu selama dua tahun。 Ia mengikuti anak-anak SMA selama sehari penuh di dalam dan luar sekolah。 Hasil dari penelitiannya ini ia sampaikan dalam konferensi yang berlangsung di Institut Francais Indonesia,Thamrin,Jakarta Pusat,pada Rabu,2 Agustus。

Berikut uraian dari hasil penelitian yang dilakukan oleh De Grave:

Siapa yang lebih lama berada di sekolah?

De Grave menyebutkan,pelajar di desa tinggal lebih lama di sekolah dibandingkan pelajar di kota。 Pelajar di desa biasanya memiliki banyak kegiatan setelah sesi belajar di kelas usai。

Alasan lainnya,biasanya sekolah yang berada di kota menutup gedung pada jam-jam tertentu。

Di SMAN 6 Yogyakarta sendiri,semua murid diharuskan untuk keluar dari sekolah setelah pukul 16:00 sore。 Mereka menilai bahwa jika muridnya dibiarkan terus berada di sekolah,dikuatirkan ada semacam insiden mengenai tauran yang dilakukan oleh para murid。

Selain itu,pelajar yang berada di desa biasanya memiliki banyak kegiatan setelah sesi pembelajaran di kelas selesai。 Banyak dari mereka yang merupakan pengurus organisasi dan harus menyelesaikan banyak hal sebelum bisa pulang ke rumah。

Siapa yang memiliki lebih banyak waktu dengan keluarga?

Pelajar di desa memiliki lebih banyak waktu luang bersama keluarga di rumah dibandingkan pelajar di kota。 Selain karena nilai-nilai kebersamaan yang masih mereka pegang teguh,b iasanya pelajar di desa jarang mengambil les tambahan。

Sedangkan pelajar di kota,selain mengambil les usai jam sekolah,juga memilih pergi ke tempat lain seperti mall atau kafe。

Mereka yang tinggal di kota biasanya memiliki kegiatannya sendiri-sendiri。 Entah jalan bersama teman atau pun pacar。 Kesibukan tersebut membuat mereka jarang berbincang secara langsung dengan keluarga di rumah。

Siapa yang lebih terlibat dalam kegiatan di sekolah?

Pelajar di desa memiliki kegiatan sekolah yang mereka buat sendiri,seperti koperasi di mana mereka menjual makanan ringan hingga alat tulis。

Kooperasi tersebut bukan hanya sebagai ajang pelajar untuk mencari kesibukan saja,tetapi mereka juga mendapatkan keuntungan bisnis dari kooperasi yang mereka jalankan。

Sedangkan sekolah di kota,meski memiliki koperasi,tapi tidak ada murid yang dilibatkan dalam pengelolaannya。

Siapa yang memiliki lebih banyak kesempatan untuk berkegiatan di luar sekolah?

Nyatanya,ada banyak asosiasi pemuda di desa。 Mereka yang setelah sekolah tidak memiliki kegiatan,bisa bergabung bersama asosiasi yang ada。

Selain itu,kegiatan agamis juga masih banyak terlihat。 Meskipun pelajar di kota juga memiliki kegiatan yang berbau agama,tetapi frekuensinya tidak sebanyak dengan kegiatan yang ada di desa。

Namun,kesempatan memiliki kegiatan di luar sekolah ini juga sebenarnya terjadi pada pelajar yang berada di kota。 Hanya saja,mereka yang di kota cenderung individualis dan memiliki kegiatan pribadi membuat kesempatan tersebut kurang terlihat。

Siapa yang lebih memilih langsung bekerja setelah lulus?

Tidak seperti pelajar di kota,mereka yang tinggal di desa lebih senang bila bisa bekerja setelah lulus。 De Grave merasa ada banyak alasan yang mendasari keputusan mereka yang satu ini,salah satunya adalah lingkungan。

Lihat bagaimana pendidikan di mata orang-orang yang tinggal di desa。 Mungkin mereka memiliki pemikiran untuk bekerja karena kebanyakan orang di lingkungannya juga bekerja setelah lulus dari SMA。

Sedangkan pelajar di kota lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan di tingkat universitas。 S ekolah yang berada di tengah kota biasa memiliki kerja sama di bidang pendidikan dengan beberapa universitas。

Kesempatan tersebut belum tentu dimiliki oleh sekolah yang berada di pedesaan。

Meskipun penelitian ini sudah selesai dilakukan,tetapi De Grave mengatakan bahwa hasil penelitian ini tidak bisa ditarik kesimpulan secara rata。 Tentu karena ini merupakan penelitian kualitatif yang memfokuskan narasumber dan observasinya pada dua sekolah di Yogyakarta saja。 Hasilnya bisa saja berbeda dengan sekolah lainnya di Indonesia。 -Rappler.com